April di Pena 98

Uncategorized

APRIL DI PENA 98

When the power of love overcomes the love of power the world will know peace. -Jimi Hendrix-

Malam ini sudah agak larut, jam 11 ketika kepada kawan Adian Napitupulu, kawan Desmon J Mahendra, kawan Olisias Gultom, Raymon, Eli Salomo, Noel, Yayan Boteng, dll aku berpamitan pulang ke rumah. Grup Band yang vokalisnya mengenakan kaos Jimi Hendrix masih seru melantunkan Child in Time, lagu Deep Purple tahun 1970an. Suara lengkingan dan deru musik rock mengembalikan kenangan eksponen 98 itu kepada masa 20 tahun lalu. Tak terasa tubuhku bergoyang, kepalaku manggut-manggut, tapi rambutku sudah tak sepanjang dulu, sekarang rapih, setiap bulan aku rutin ke barbershop langggananku di jalan Benda.

Sebelum bepamitan pulang, aku dan benerapa kawan menyempatkan melihat lihat dinding di lantain dua gedung di bilangan Kemang Utara 22 itu. Kami menyaksikan foto-foto dalam frame, yang merupakan rekaman peristiwa “pemberontakan” kaum muda melawan otoritarianisme Orde Baru di bawah kendali Presiden Soeharto kala itu. Foto-foto itu sebagian besar merupakan karya Firman Forkot (Forum Kota).

Menyaksikan frame demi frame foto-foto itu darahku berdesir, sudah 20 tahun lalu berlalu peristiwa-peristiwa itu, di permukaan foto anak-anak muda mahasiswa membeku sebagai gambar dan kita sudah menua kawan!

Bagiku, foto-foto itu menyegarkan kembali kenangan pada masa muda remaja, ketika darah dapat mendidih seperti ketel uap mesin diesel lokomotif yang mampu menggerakkan sejarah.

“Teman di hari tua adalah persahabatan” demikian kalimat Bung Desmon saat membuka acara reuni sekaligus memperingati ulang tahun LBHN JAKARTA. Ridwan yang sedari dulu berbadan besar itu menyulut lilin. Setelah menyanyikan Indonesia Raya kue tar dibelah, Bung Desmon memberikan kue itu pertama kali kepada Bung Adian, sang sahabat.

Kemudian berturut-turut dengan wajah yang sumringah, Bung Desmon membagikan potongan-potongan kue kepada para sahabat tanpa terkecuali. Masing-masing piring berisi potongan kue itu punya cerita, kisah indah dari masa lalu yang bisa jadi mulai terlupa jika dicatatkan.

“Sahabat di hari tua adalah kenangan” kalimat ini melengkapi kata kata Bung Desmon, demikian Bung Adian menyampaikan kata sambutan sambil menikmati manisnya kue tart berwarna merah itu. Kedua kata sambutan dari Bung Desmon dan Bung Adian membuat setiap mata yang hadir seolah menerawang kembali ke masa lalu ketika mengakrabi jalanan, ketika idealisme dan kenekatan jadi satu dipertaruhkan menghadapi hujan peluru aparat Orde Baru.

Nyatanya, tidak sia-sia. Perjuangan pemuda, rakyat, dan mahasiswa berhasil melahirkan perubahan. Membongkar ketakutan dan merayakan kemenangan. Walaupun akhirnya kembali lintang pukang diterjang kebutuhan jaman dan situasi masing-masing.

Aku sering lewat gedung ini. Di depannya ada penanda bertuliskan Pena 98. Kini aku tahu, gedung itu bukan sekedar warung kopi, akan tetapi jika bukan kelangenan, maka merupakan sebuah ruang pertemuan ngopi-ngopi dan bercengkerama, bersilaturahmi dan saling membayar kerinduan dari pergulatan pertarungan dalam dinamika kehidupan.

Pertemuan malam ini, yang dihadiri para “mantan mahasiswa bengal” ini begitu terkesan sederhana. Kawan-kawan tidak banyak berubah, tetap menjadi karakter masing-masing. Tidak ada pembicaraan politik, hanya kisah-kisah kelucuan demi kelucuan yang kita tertawakan dari masa lalu yang penuh gemilang tapi juga mukzizat.

Ini bulan April 2018, dan 20 tahun lalu kami masih muda remaja, dianggap oleh pemerintah Orde Baru sebagai generasi nekat dan berbahaya. Bagaikan kera-kera mungil yang menyerang Astina, sebagian terbakar dan sebagian lainnya mampuntiba di destinasi perubahan.

Jika kerinduan itu memuncak, maka bisa jadi itulah kejenuhan atas realitas yang semu dan beku. Apapun dan siapapun yang mengenyam kue kekuasaan saat ini tidak pernah bisa terlepas dari sejarah kawan kawan pejuang 98 yang berkumpul malam ini. Suka atau tidak suka, dipahami atau tidaknya sebuah perubahan, gagal atau berhasilnya reformasi, dinamika itu kawan kawan isi sejarahnya dengan kontribusi masing-masing. Ya, seperti halnya tugas sejarah yang terjadi 20 tahun lalu.

Jika flash back ke belakang… Pertemuanku dengan sahabat pergerakan ini terjadi di bilangan Cisanggiri, Kebayoran Baru- Jakarta Selatan. Saat itu aku masih usia SMA. Kulihat setiap malam anak anak muda dan setiap yang hadir melakukan diskusi, bisa sampe larut malam. Bisa berhari-hari, mengerjakan tugas kuliah sambil mengakrabi alat tulis memproduksi selebaran untuk penyadaran rakyat. Di rumah seorang profesor yang kami akrabi dengan panggilan Om Sampengan. Orang tua yang kritis dan cerdas yang rumahnya menjadi sarang pergerakan generasi 90an. Satu di antara mereka adalah Bung Adian.

Di Cisanggiri I itu setiap hari mahasiswa datang dan pergi. Kalau bukan anak anak Untag, Unas, Pijar, ya anak anak dari berbagai kampus di Jakarta atau daerah lain. Tempat itu adalah tempat yamg aman dan nyaman bagi para mahasiswa untuk berkumpul dan mengasah “pandangan ideologi” pergerakan. Di tempat ini, aku tak lama karena harus kembali ke Jogja. Namun konon di tempat itulah satu inkubator gerakan yang membuat berangsur-angsur gerakan mahasiswa terkonsolidasi, membesar dari berbagai lini lantas tak terbendung, menjebol dinding tiran yang telah 32 tahun berkuasa dan masih ingin berkuasa lagi seumur hidupnya, yaitu Orde Baru.

Aku mencatat peristiwa, di halaman Universitas 17 Agustus 1945 di Sunter. Sewaktu itu seingatku aksi tentang advokasi korban Sutet (Saluran Tegangan Tinggi). Penampilan sosok yang dari dulu khas sekali, kepala yang tidak banyak ditumbuhi rambut, kacamata, dan pandangan-pandangan yang slow tapi tajam. Berikutnya aku bertemu pada seputar peristiwa 27 Juli 1996, dan peristiwa reformasi 1998. Satu di antara mereka adalah Bung Desmon.

Aku kira merasa patut berterimakasih kepada angkatan masa itu yang telah menghadirkan ruang kesadaran untuk menyambut perjuangan setiap pemuda dan mahasiswa yang gelisah mau membela rakyat.

Waktu terus berlalu. Sebagian kawan-kawan yang lain aku kenal ketika kami mendirikan organ kesatuan aksi, Front Jakarta. Kesatuan aksi ini kemudian berkembamg menjadi Dewan Mahasiswa Jakarta ( DMJ ), Dewan Rakyat Jakarta (DRJ), Dll. Kami sering melantunkan lagu internasionale dan darah rakyat apabila turun ke jalanan. Rasanya waktu itu bagaimana begitu, senang tidak, susahpun tidak. Kita kini berkumpul kembali mengenang penggalan peristiwa yang masih teringat. Tercatat rapih di buku harianku.

Beberapa kawan turut naik ke lantai dua dan menyaksikan foto-foto peristiwa. Menjadikan masing masing semacam Intersetelar menyeberangi kembali masa lalu. Mereka seperti tercekat, sudah 20 tahun terjadinya reformasi. Mungkin di benak kawan kawan terbersit pertanyaan apakah keadaan berubah lebih baik? Apakah kemapanan telah menjadi kenikmatan yang membelenggu? Atau malah semakin menjadikan gelisah dan ambigu? Sejarah yang akan menjawabnya.

Seiring berakhirnya Child in Time nya Deep Purple yang dinyanyikan grup band dengan vokalis yang berkaos Jimmi Hendrix itu aku pamit kepada kawan-kawan. Bung Desmon menanyakan kepadaku apakah sanggup

Membuat film tentang generasi 98? Aku mengangguk. Dan Bung Desmon kelak mengajak bertemu membahas film itu. Aku pikir pikir romantisme perlu menjadi nyata, film satu di antara media menyatakan romantisme itu. Paling tidak monumen hidup buat anak anak kelak.

Aku kepikiran sesuatu, foto-foto yang terpajang di dinding lantai dua itu menjadi lukisan lukisan dengan warna warni peristiwa. Aku mau bikinkan mural seperti Leonardo Da Vinci melukis kapel, semoga keinginanku terwujud.

Ketika kubuka pintu dan meninggalkan warung kopi Pena 98, di parkiran kendaraan aku masih mendengar lamat-lamat lantunan lagu Deep Purple. Lagu itu semacam memanggil kembali semangat muda remaja.

Bulan April ini film yang kukerjakan berjudul Maha Guru Tan Malaka versi 33 menit memulai program roadshow Merdeka 100%. Film yang difasilitasi oleh Direktorat Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia itu akan menyambangi setiap muda mudi remaja di berbagai wilayah di Indonesia.

Pagi tadi di bulan April ini, istriku Yolinda Puspitarini menunjukkan test pack kepadaku, sebuah kabar bahagia kubaca dari dua strip merah di batang test pack, itu pertanda istriku mengandung. Kamipun berpelukan dan berbahagia, pagi tadi kami segera memeriksakan temuan itu ke Saint Carolus untuk memastikan kabar bahagia ini. Ya, benar saja. Dokter menyampaikan kabar bahwa istriku mengandung. Kado indah buat kami berdua.

Di rumah sakit yang sedang berbenah itu, 20 tahun yang lalu, kenangan itu seperti baru kemarin terlewat. Peristiwa yang sekelebat demi sekelebat menjadi flash back adegan demi adegan. Ya… Anakku, kelak aku akan menceritakan kepadamu betapa sejarah reformasi pernah mampir di tempat yang bersejarah itu. Dan Ayahmu ini satu di antara saksi hidup peristiwa besar yang merubah haluan negara ini menuju pandasan pacu reformasi 1998.

Aku keluar dari parkiran, kebetulan rumahku yang sekaligus studioku yang kunamakan Sarang Berang Berang Studio sangat dekat letaknya dengan Pena 98. Sepanjang perjalanan yang singkat itu, di atas kendaraan tak kudengar lagi Deep Purple. Tetapi, sayup-sayup kudengar kembali suara mahasiswa di halaman Gedung DPR/MPR di bulan Mei tahun 1998 itu, atau suara-suara kaum muda yang lantang serta nyanyian Padamu Negeri yang kolosal itu, kembali fade in di telingaku…

Ah… bulan April, begitu banyak kabar bahagia kudapatkan. Terimakasih Gusti Allah.

Daniel Rudi Haryanto

Alumnus Fakultas Film dan Televisi

Angkatan 1998

FRONT JAKARTA

Iklan

Usmar Ismail, Tan Malaka dan Platform Baru Distribusi Film Indonesia

Uncategorized

Guys… dalam rangka memperingati Hari Film Nasional perhimpunan pelajar dan mahasiswa Indonesia di Belanda mengadakan pemutaran film Maha Guru Tan Malaka dan diskusi khusus membahas peranan Tan Malaka dan KH Hasyim Asyari dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia hingga merdeka. Acara putar film ini diselenggarakan di Universitas Van Amsterdam, negeri Belanda.

Sehari sebelumnya, guys.. pada tanggal 29 Maret malam hari pukul 20.00 wib, film Dokumenter berjudul “Maha Guru Tan Malaka” diputar perdana di Gazebo Literasi, Malang, Jawa Timur untuk memeriahkan peringatan hari Film Nasional. Antusias publik penonton terasa dari kunjungan yang membludak. Sekitar seratusan penonton berkumpul dalam 2 gelombang sesi pemutaran yang disertai dengan diskusi. Kedua kegiatan tersebut mengawali road show film Maha Guru Tan Malaka ke seluruh Indonesia.

Ini merupakan awal yang menggembirakan untuk program roadshow yang kami selenggarakan untuk memeriahkan hari film Nasional 29 Maret 2018. Pada road show pertama di Gazebo Literasi para penonton menyumbangkan uang sukarela sebesar 365.000 rupiah sebagai modal awal kami dalam usaha melanjutkan proses pembuatan film Layar lebar berdurasi 73 menit, sebagai kado untuk merayakan 73 tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2018 tahun ini.

Tentu pengalaman ini merupakan pengalaman berharga bagi saya sebagai filmmaker untuk belajar mendistribusikan film dengan jalur independent. Kami menyebut kegiatan ini sebagai road show Merdeka 100 %. Oleh karena kemerdekaan pembuat film dan kemerdekaan penontonnya menjadi semangat untuk menjadikan film sebagai sarana belajar sejarah bersama.

Guys… Mengangkat tema Tan Malaka bukan suatu hal yang mudah. Banyak bangeeeet tantangannya, guys. Selain dana, juga tenaga, dan juga stigma komunis yang melekat pada sosok yang diberi gelar Pahlawan Nasional dan Bapak Republik Indonesia ini.

Hah?! Kalian pda belum tahu siapa Tan Malaka? Oohhh ok ok… ngga papa Guys… tahu ngga tahu kayaknya ga penting deh…. yang penting sekarang, kita mau ajakin kalian menziarahi sejarah super hero Indonesia yang keren ini.

Guys… Keinginan membuat film Tan Malaka telah terbersit sejak duduk di bangku kuliah semester dasar Institut Kesenian Jakarta. Bagi saya pribadi, Tan Malaka adalah sosok yang menarik untuk difilmkan dan menjadi isnpirasi Indonesia.

Eeehhh… bentar bentar… iya baru inget kalok banyak yang belum tahu ya siapa Tan Malaka itu? Hihihi… jadi kepo yeeee?

Guys… Bapak Tan Malaka itu seorang guru, pendidik untuk bangsa Indonesia. Bersama Ki Hajar Dewantara bahu membahu mendirikan sekolah untuk rakyat. Gratiiiissss guys!

Apa? Kualitas pendidikannya? Wahhh jangan ditanya guys? Indonesia merdeka ini juga perjuangan murid-murid aki Hajar dan Tan Malaka! Keren banget ya…

tan Malaka telah mendedikasikan hidupnya untuk perjuangan memerdekakan tanah jajahan Hindia Belanda dari cemgkeraman Imperialis Eropa, akan tetapi sejarahnya tertutup kabut misteri akibat stigma komunis yang melekat di kehidupannya.

Aku ga tahu guys, kenapa di era Pak Harto nama Tan Malaka dan sejarahnya seoralh terkubur jaman di tanah air yang beliau perjuangkan seumur hidup.

Film berjudul Maha Guru Tan Malaka ini merupakan film pendek berdurasi 33 menit. Film ini menceritakan tentang petualangan seru Marko (Rolando Octvio Purba, pelajar Indonesia di Paris) menziarahi sejarah Tan Malaka (seorang pelajar Indonesia di Haarlem, Belanda pada 1913-1919). Dalam petualangan itu Marko memasuki lorong waktu masa lalu. Melalui Harry A Poeze yang menceritakan kisah Tan Malaka berikut arsip arsip Tan Malaka yang berada di Haarlem dan Leiden. Guys, tahu gak gimana caranya ya kalok peristiwa sudah terjadi, ga ada dokumentasinya? Nah… ini nih, animasi jadi solusinya. And di film Maha Guru Tan Malaka ini, ada animasinya lhoh!

Platform Baru Distribusi Film

Guys, kayaknya aku dapat inspirasi nih setelah dua pemutaran film kemarin. Pengumuman lewat sosial media; website, dan kanal-kanal digital ternyata efektif yesss.

Permintaan memutat film di berbagai daerah segera memenuhi email, inbox, sms setelah teaser dan poster film Maha Guru Tan Malaka aku posting di Fb.

Koordinasi roadshow jadi lebih ringan dan asyik. Ini menarik ya Guys ternyata manfaat sosial media sudah sedemikian baik hingga mengundang luber para peserta roadshow.

Guys, aku pengen ketemuan sama kalian semua yang suka nonton film. Kemarin kan hari Film Nasional 29-30 Maret ya kan Guys. Nahhh kenapa sih hari itu jadi hari film?

Kalok menurut dosen ku dulu waktu kuliah di IKJ ( Institut Kesenian Jakarta ) tanggal itu adalah hari dimana Usmar Ismail shooting film Darah dan Doa! Masih hitam putih lho guys filmnya, lagi pula ngga pake digital kayak kita guys… ribet dah pokoknya kalok lihat shootingnya jaman Usmar Ismail. Tahu seluloid, guys? Iya pita film kayak punya nenek dan kakek itu… analog era guys… ribet.

Bayangin ya, ribey begitu masih aja mau bikin film, tapi keren guys! Film itu jadi jejak visual dan audio pada masanya, kisah yang dekat dari pelaku perang kemerdekaan. Usmar Ismail itu guys, bukan hanya bikin film, tapi angkat senjata membela tanah air Republik Indonesia yang diproklamirkan Bung Karno dan Bung Hatta pada 17 Agustus 1945!

Yesssss… trus hubungannya sama Tan Malaka apa? Soal prinsip nih guys, mereka sama sama keras kepala. Banyangin ya… itu di deket stasiun Cikini Jakarta pusat kan ada Bioskop Megaria, pada jaman itu Usmar gaplokin pemilik bioskopnya gara gara nggak mau nayangin filmnya Usmar atawa film Indonesia. Nahhhh… tuhhh kan… emang keterlaluan sih pemilik bioskopnya, masak nggak mau putar film Indonesia? Itu cerita dari dosen-dosenku guys.

Nih soal distribusi alternatif, aku lagi belajar nih guys, nggak sama sih sama Usmar yang gaplokin pemilik bioskop. Aku mau belajar roadshow filmku, guys. Kenapa? Yaaahhh kayak Tan Malaka lah bisa dekat sama penonton. Dan sekaligus mau mohon doa dan restu penonton buat nyelesaikan layar lebarnya, guys…

Nah platform distribusi melalui roadshow dan jejaring komunitas ini sebenernya udah pernah aku lakukan dulu jaman kuliah, namanya Sinema Ngamen. Sekarang nih aku kangen muter film road show menyambangi penonton. Guys, tunggu di kotamu yesssss…

Bung Usmar semangat banget membangun film Indonesia, Tan Malaka semangat banget jadikan Indonesia merdeka dan jadi inspirator Bung Karno dan tokoh-tokoh legendaris para super hero Indonesia di era revolusi 1945.

Nah semangat mereka itu guys jadi inspirasi untuk tidak menyerah mencoba sesuatu yang baru dan membangun. Semoga platform baru roadshow dan distribusi melalui sosial media digital ini dapat dilancarkan dan mendapatkan barokah dari Gusti Allah Maha Pengasih dan Penyayang ya guys!

Jangan nonton teasernya doang, guys… abis nonton trus hubungi Panitia Roadshow Merdeka 100%. Yuuuuk…

Panitia Roadshow: Panji Nandiasa Mukadis, nih nomernya +62 813 10122404 . Okey ya guys silahkan dihibungi. Terimakasih guys sampainjumpa di sinema!

Salam hangat

JAKARTA SUBUH

Uncategorized

Dini hari.

Nois kota besar.

Aku tenggelam dalam karya.

Impian dan harapan akan masa depan kesenian.

Sesekali Sanyo berdering.

Menghentikan dering jangkerik yang bersenandung di kegelapan pojokan gudang.

Aku dengar orang mengaji, suaranya mendayu dihantarkan angin.

Kusyuk dan dalam, jernih sampai ke batin,

aku belum bisa mengenali surah apa yang dibacakan malam di kejauhan itu,

aku tak tahu bagaimana menterjemahkan bahasanya,

hanya kurasakan teduh

Semacam ada di tempat yang tak terkenal,

yang sunyi tapi aman.

Aku tenggelam dalam karya

Impian dan harapan akan masa depan kesenian.

Pada suasana Jakarta subuh,

Sebagian tertidur,

Sebagian yang lain menunggu kumandang tugas sembahyang.

DIA,

tak pernah tertidurkah?

tak pernah terbangunkah?

Terjaga sepanjang masa,

DIA

Jakarta sudah memasuki subuh,

Aku segan menerjemahkannya.

Kemang Timur Raya, 10 Maret 2018.

Rue Spontini

Uncategorized

Jakarta hujan…

Seperti gerimis yang jatuh pada teras teras bangunan di sepanjang Rue Spontini.

Di kaca yang menyublim aku melihat tanaman kering, berdialog dengan nasibnya sendiri. Klue di dalam penjaranya, menyambut musim dingin yang segera tiba.

Jakarta hujan…

Seperti gerimis yang jatuh membasahi dinding dinding bangunan di sepanjang Rue Spontini

Langkah kecil kakiku menapaki jalanan Paris, tersesat tak tahu di mana?

Di bulan November yang terasa beku…

Aku merindukannya…

Sungai Sein dan dingin baja Eifel,

Etalase galeri dan gula-gula, warung kopi

Kesibukan Metro dan lorong-lorong stasiun, Republik dan restoran China,

Kopi di wadah styrofoam, dan warung bir di seberang George Pompidou.

Aku merindukan alunan ukulele dari asrama mahasiswa Indonesia

Yang menyelipkan kisah cintanya di antara deretan catatan tesis dan merindu tanah airnya… wajahnya ikut menyublim pada bayang-bayang kaca jendela yang tipis mengembun.

Tiang Listrik dan Akal Sehat

Uncategorized

Nama Setyo Antonov sungguh terkenal. Menghiasi jagad fiksi politik Negeri dongeng Republik Antariksa.

Dia mengendarai Toyota Fortuner, entah karena mabuk, ngantuk, atau bengong, ia lantas menabrak tiang listrik yang berdiri di sebuah trotoar.

Konon kepalanya lebam dan bengkak. Ia dibawa ke rumah sakit, dirawat dan tertidur. Lantas berbagai foto viral di jejaring maya. Sama fiksinya, setiap warga jejaring maya merayakan pesta pora bulian, serasa mendapat angin segar bahan konten. Termasuk saya.

Sebenarnya malas melibatkan diri merespon politisi Republik Antariksa ini. Kejadian itu berbarengan dengan aksi dari Komisi Pemberantasan Maling sedang memburu dirinya terkait dengan dugaan korupsi yang dilakukannya.

Akan tetapi astronot Setya Antonov terlalu sakti, jurus-jurus fiksinya mampu mengelabuhi aprat hukum dan hukum itu sendiri. Usianya 62 tahun, tetapi dia garong kelas kakap. Garong yang menguasai parlemen dan lembaga negara lainnya. Semestinya umur segitu memberikan contoh yang baik, tetapi ini tidak.

Setya Antonov mengajarkan kepada generasi berikutnya tentang bagaimana merampok negara dengan cara konstitusional. Ia mengajarkan generasi muda menjadi sindikat kejahatan yang resmi dan legal. Sehingga ketika ia menabrak tiang listrik, setiap warga jejaring maya lebih membicarakan tiang listrik dan mobil Toyota Fortunernya ketimbang kasus dugaan korupsinyang di lakukan.

Guys, dia mampu membuat akal sehat punah, logika menghilang, agama bocor, kesenian kacau, dan kehidupan menjadi goblok!

Sehingga akibat perbuatannya bisa jadi setan dan iblispun segera merapat, membahas cara baru untuk mengajak manusia menjadi lebih baik sedikit. Karena, orang semacam Setya Antonov ini kejahatan, kelicikan, dan kebejatannya dalam merampok uang negara telah melebihi kejahatan dan kelicikan setan dan iblis.

Hari ini kita diharu biru ketidakberdayaan kita sebagai bagian dari masyarakat negara. Negara dilemahkan, hukum menjadi drama lelucon. Sementara garong dan perampok berkeliaran di parlemen, kecu, maling, dan penjudi mempertaruhkan nasib rakyat, dan mereka menang menguasai pemerintahan.

Ini adalah gambaran kemarahan saya, ketika bertempur menghadapi realitas politik fiksi yang aneh ini. Oh, negaraku… semoga dihindarkan dari segala malapetaka kehidupan. Negara dilemahkan dan kita tak mampu berbuat apa-apa kecuali memaki, membuli, lantas tertawa rame-rame karena beraknya Setya Antonov muncrat ke wajah kita masing-masing.

Hukum dilemahkan, logika dilecehkan dan kita kehilangan harapan atas masa depan yang lebih baik bagi negeri ini.

INDONESIA KONTEMPORER

Uncategorized

Guys….

Buat kamu yang ada di Perancis dan sekitarnya. Jika kalian ada waktu tanggal 14,15,16 September ini mampir ya Guys ke stand Reseau Indonesia di acara akbar Fetr de l himanite, cekidot guys… 

http://fete.humanite.fr/

Komikku dipamerin di sini. See u at Paris, guys!

Pkizoprenia, original size:A4

Septembre, original size: A4

Mawar Merah dan Pistol, original size:A4

PKI, original size: A4

G 30 S/ AL4i, Original size:A4

Filmmaking, antara Buah atau Sari Buah?

Uncategorized

Catatan Catatan Yang Tertinggal Dari Film Dokumenter (3)

Guys…Di Busan Internasional Film Festival 2014 saya diundang menghadiri acara penting. Malam itu beberapa filmmaker mendapatkan anugerah award. Satu di antaranya Joshua Oppenheimer sutradara asal Denmark yang filmnya mungkin kalian udah tahu ya, itu tuuuh “The Act of Killing” (TAoK) dan “The Look of Silence”(TLoS).

Malam itu guys kalok gak salah tanggal 10 Oktober 2014, Joshua dapat Busan Cinephile Award for best documentary, itu penghargaan bergengsi guys, ampe ngiler liatnya hahahaa cesss…cesss…

Bersama Joshua Oppenheimer dan ibu Kim Hyong Syuk di BIFF 2014

Tapi di catatan ini guys, bukan penghargaannya yang ingin saya bahas, tapi filmnya. Apa sih yang menarik? Gini guys, tahu gak perihal peristiwa 65? Itu Guys yang tiap bulan September tanggal 30 dari sejak jaman Orde Baru sampe jaman pemerintahan era milenia ini diperingati sebagai hari pemberontakan PKI? Kemudian tanggal 1 Oktobernya jadi hari Kesaktian Pancasila?

Nah, guys sebagai generasi milenia kita kayaknya penting deh tahu sejarah peristiwa 65 itu. Kalau kita riset guys, banyak banget catatan sejarah yang simpang siur perihal siapa yang berontak dan siapa yang menunggangi peristiwa yang mengakibatkan ratusan ribu anggota dan simpatisan PKI (Partai Komunis Indonesia) dibantai akibat perang saudara sesama orang Indonesia waktu itu.

Tapi guys, saya ga mau bahas soal itu yaaa… maklum guys itu sejarah sensitif, kagak enak dibahasnya. Trus bahas apa dong oppaaaaa? Hahaa begitu tuh kalok terpengaruh sama budaya popnya Korea, nanya nya pake Oppaaa… ayomg haseo Opaaaa… xoxoxoxxoxoxo

Rongsokan Film G 30s/ PKI di PFN

Okey guys, kita mulai dari pertanyaan bagaimana ceritanya si sutradara Joshua Oppenheimer bisa menemukan sosok Adi Rukun dan menjadi karakter utama di filmnya, bagaimana awalnya Joshua bisa meletakkan tokoh Pemuda Pancasila di Sumatra Utara yang disegani fidunia wal akherat (hehe di akherat disegani apa tidak gak tahu ya guys) bernama Anwar Kongo ke dalam filmnya? 

Kalau kita dapat jawaban dari dua pertanyaan itu, guys maka insya Allah kita bisa mulai tahu nih bagaimana film yang ceritanya kuat kayak TaOK dan TLoS bisa dibikin. Saya menyebutnya bukan hanya dokumenter guys, tapi Cinematic Documentary… hehe keren ya guys rasanya dengar istilah itu kemrenyes gimana gituuhh batin ini seolah olah…weww

Courtesy:Wikipedia

Courtesy: Wikipedia


Anyway… okey…

Begini guys, 1965 adalah peristiwa besar guys, ada melibatkan banyak tokoh, organisasi, peristiwa, kepentingan dari luar negeri dan macam-macam deh, very complicated sampai-sampai CIA (Dinas Intelejen Amerika) membuka data 30 tahun kemudian bahwa mereka terlibat dalam urusan 65 di Indonesia. Tuh kaaaan rumit kaaan guys…ngeriii boooo…

Dari kompleksitas kisah-kisah 65 itu guys, seorang filmmaker dituntut untuk mengambil cerita yang paling keren, menarik dan enak dilihat. Yaaaah tahu sendiri ya, film-film seputar 65 baik fiksi maupun dokumenter biasanya berdarah darah ekstra kesedihan guys… bikin takut aja kalok pas kencing sendirian di belakang rumah hahahaa.

Di sinilah kecerdasan seorang Joshua Oppenheimer diuji guys, dia ngga kejebak ke bentuk profil seorang Anwar Kongo atau Adi Rukun pada dua film yang berbeda itu. Joshua berhasil menemukan inti sari semua kompleksitas peristiwa menjadi sederhana. Dari aktifitas tukang jual kacamata Josua memulai bercerita untuk “The Look of Silence”. Hasilnya keren guys. Kacamata, peralatan periksa mata, dan berbagai aktifitas Adi Rukun sebagai penjual kacamata bisa menjadi semacam simbol bagaimana bangsa ini melihat persoalan 65 dalam keseharian setelah peristiwa itu lama berlalu, peristiwa yang meninggalkan trauma, meninggalkan jejak pilu bagi anggota keluarga, baik pelaku maupun korbannya. Tuh guys mulai terlihat gak apa yang mau saya bahas di catatan ini?

Anwar Kongo sebagai sosok yang ditakuti, dia terobsesi oleh lakon-lakon Hollywood. Widiiihhh cadas kan? Semacam Iblis berhati Rinto ( penyanyi dengan lagu lagu melankolis di tahun 80-90 an). Joshua memang tidak gamblang mengungkap fakta bahwa CIA terlibat dalam peristiwa 65 di Indonesia yang mengakibatkan suksesi Jendral Soeharto menjadi presiden menggantikan Soekarno. 

Obsesi Anwar Kongo sebagai aktor film, dan kecintaannya pada film-film Hollywood, terinspirasi Al Pacino dll itu semacam simbol bahwa Amerika mainded sudah ada di kepala orang Indonesia sebagai “Hero” secara visual…. guys berat yaaak? Nggak juga sih guys… ini kayak coca cola campur kebab sebenarnya… hahaha bikin kenyang otak..

Woiiiii apa hubungannya dengan buah sama sari buah? 

Courtesy: Wikipedia

Eeeh… iya guys, ckckckckcck jadi ngelantur ya. Okey guys begini… catatan di atas guys membuat kita tahu bahwa benda, peristiwa, suasana psikologis ternyata bisa menjadi perantara bercerita yang menarik. Jadi… nggak perlu wawancara kayak di film Banda the Dark of Forgotten Trail itu wawancara melulu… hehehe di Wikipedia juga banyak… anak kemarin sore yang baru ikutan workshop film juga bisa tuh bikin begituan… ups nggak juga kelessss…

Jadi guys, supaya kita nggak bikin film yang kayak Banda itu, yang isinya udah ada di wikipedia dan gambar-gambar cantiknya juga sebelumnya dah banyak orang upload di Instagram. Supaya kita cerdas dikit yaaa bikin film yang ngga pernah dibahas di sosmed maupun susah dicari materinya di Wikipedia… itulah guys yang dinamakan sari buah nya cerita. 

Tentu ini butuh riset mendalam guys, dananya juga ga sedikit, tapi yang lebih penting adalah seorang cinematic documentary filmmaker harus peka dan banyak membaca sehingga dia bisa memahami suatu peristiwa dan mengambil intisari dari peristiwa itu, dengan berangkat dari peristiwa atau benda yang kecil namun kemudian bisa membawa kepada cerita yang besar. 
Joshua Oppenheimer ga perlu datang ke Museum Loebang Boeaya deket Asrama Haji Pondok Gede sana untuk menceritakan peristiwa 65, dia tidak perlu wawancara Jendral Soeharto ( orangnya dah gak ada) untuk mengklarifikasi ada dan tidaknya pembantaian anggota PKI atas perintahnya sebagai pangkopkamtib berbekal Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) waktu itu. 

Dalam bertutur, Joshua membutuhkan sosok yang tak pernah dikenal dalam catatan sejarah Indonesia, seorang anak lelaki yang tumbuh dalam suasana traumatik akibat peristiwa 65 karena anggoa keluarganya dibantai orang orang yang memiliki kedekatan dengan keluarganya. Atau Anwar Kongo yang suka bercerita secara detail
Tentang bagaimana ia membantai setiap korbannya dengan bernyanyi, bersiul dan menari-nari. 

Dua karakter yang luput dari catatan besar dalam sejarah perjalanan Republik Indonesia itu ternyata jadi karakter yang sangat kuat, menjadi jembatan naratif dalam film dokumenter, dan Joshua dengan kecerdasannya mampu memungutnya dari tumpukan rongsokan sejarah yang hanpir terlupkan dan memolesnya menjadi catatan visual yang tentunya kadi keren dalam bentuk film.

Guys… layak ya film kayak gitu masuk nominasi Oscar? Xixixiixii…

Courtesy: gettingeasy.com

 

Jadi Guys, ketika semua cerita besar saat mau diwujudkan harus menggunakan budget besar, kita harus sadar ya bukan anaknya kongklomerat yang kaya raya sehingga gampang dapat duit untuk bikin film, atau pinter bikin proposal film budget gede,  kita berangkat dari diri sendiri aja dulu, bagaimana dari kolongmelarat ini guys kita mulai setia meneliti hal hal kecil, karena dari situ kita bisa berangkat untuk menceritakan hal-hal besar. 

Misalkan; Panglima Besar Jendral Soedirman, kita bisa memulai membuat film dengan cerita kecil ketika seseorang memberikannya jas panjang yang sampai hari ini menjadi sangat fenomenal. hayooooo… Siapa yang tahu cerita darimana jas panjangnya Jendral Soedirman berasal? Gak ada yang tahu kaaan?

Misalkan, cerita tentang Lagu Indonesia Raya, berangkat dari kisah WR. Supratman mencari satu lembar catatan not balik yang hilang waktu dia menciptakan dan mangaransemen lagu itu, atau bagaimana menjelang malam 28 Oktober itu, WR Supratman sibuk mencari toko penjual senar biola karena satu senarnya putus, sementara besok sudah terjadi momentum Sumpah Pemuda.
Misalkan; Cerita tentang Kyai Ahmad Dahlan, berangkat dari cerita perpustakaan yang ia bangun sebagai tempat interaksi dan pengajaran kepada murid-muridnya. Guys… nih cerita aja ya, bayangkan guys, film tokoh tokoh p legendaris Indonesia di film film Indonesia jarang yang ada adegan membaca buku, atau mendiskusikan isi buku, guys! Padahal mereka itu tokoh yang makan buku hahaha

Artinya apa tuh? Artinya filmmaker selalu membuat film berdasarkan gelondongan buahnya, bukan melakukan riset mendalam untuk menemukan sari buahnya… ah masaaaak? Xixixiixi beneran guys!

Jadi gitu guys curcol saya perihal memilih menceritakan buah atau menceritakan sari buahnya… semoga catatan ini berdaya guna ya guys… jolali share kalau merasakan manfaatnya yaaa…

Selamat berpikir ya guys… moga moga bisa sampai kepada permukaan bulan kayak Neil Amstrong, atau minimal melayang layanglah di luar angkasa kayak Yuri Gagarin… jangan lupa menginjak bumi guys, kameranya masih di tripod! Hahahahahaa

Guys, soal pendidikan film ya, aku kok pengen kalian merasakan kayak Neil Amstrong pertama kali nginjal kakinya di Bulan. Persetan itu fiksi atau dokumenter! 

Semoga ini bukan atatan yang berbahaya…. Xoxoxoxoxoxoxo

Film Dokumenter apa Fiksi?

Uncategorized

Catatan-catatan film dokumenter yang tertinggal (2)

Guys…

Kalok kalian suka nonton film di bioskop 21 atau XXI tentu kalian akrab sama film Hollywood ya… simpelnya orang bilang itu film fiksi.  

Ya, fiksi guys, buat anak anak sekolah film IKJ, bahasa film akademiknya agak keren sih film naratif. Nah guys, film naratif itu biasanya berangkat dari imajinasi. Makanya seringkali kita lihat tokoh dan cerita di dalamnya itu khayalan belaka. Namanya juga fiksi hehehe.

Di catatan sebelumnya saya sudah pernah singgung tuh, perkembangan teknologi membawa dampak pada perkembangan bentuk dan gaya bertutur dalam film. Kalok dulu kameramen National Geographic harus bawa kamera dan banyak ken-ken seluloid, budget produksi harus ditekan sehingga merekam realitas hanya 10 detik per shot. Gaya TVRI guys…katanya begitu.
Ini saya mau cerita guys, pengalaman kembara ke Jepang tahun 2011 dan 2012. Nah, di tahun 2012 itu guys… saya diundang ke acara besar di bulan Oktober ya, nama acaranya Tokyo Documentary Dream Show. Ada film menarik yang bikin saya penasaran bener. 
Judulnya “Three Rooms of Melancholia” sutradaranya bernama Pirjo Honskasalo asal dari Finlandia. Tahu ga guys? Saya tonkrongin film panjang itu sampe tuntas tas tas di kredit titel terakhir. Trus waktu penonton pada pergi, saya masih terpaku di bangku sinema! Kenapa terpaku? Ya bukan karena encok atau lemes guys, tapi beneran waktu itu saya gegar guys, kepala saya cetar membahana… dalam benak saya bertanya, ” Ini film dokumenter apa fiksi?”.

Syukur alhamdulillah ya guys, saya segera menyadari kalok itu even film dokumenter. Lalu saya ga bisa tidur guys, bukan karena lapar di negara orang… tapi sebagai filmmaker saya berpikir, bagaimana si filmmakernya mas Pirjo itu bisa bikin film kayak gitu? Apa isi bagasi kepalanya ya? Bagaimana pengalaman hidupnya? Apa aja bacaan bukunya? Siapa orang orang yang mendukungnya mewujudkan film semacam itu?

Edan! Film itu menggoyahkan isi kepala saya guys, dokumenter kok gak ada wawancaranya dan sangat naratif, kayak fiksi di film-film bioskop 21! Nah, guys… sejak saat itu saya terus mengembara mencari dan mencari, belajar dan belajar menemukan jawaban dari pertanyaan, “Apa batasan film dokumenter?

Waktu kuliah di Fakultas Film dan Televisi (FFTV) Institut Kesenian Jakarta (IKJ) di hari-hari pertama kuliah, dosen kami memperkenalkan berbagai film yang tercatat sebagai tonggak sejarah sinema dunia, guys. Tiap hari guys, mata dan otak saya digempur sama tayangan yang terasa aneh waktu itu. Ada film yang masih hitam putih, ada juga yang berwarna. Ada yang lamaaaaaaaaaaaa banget guys, sampai sampai kalok nonton bisa tidur, bangun, tidur lagi… pas bangun belum juga kelar tuh film. Ada film berjudul Sleep, tahun 1963 karyanya Andy Warhol guys! Gilak tuh film beneran bikin tidur hahaha…

 

Satu di antara film itu sampe hari ini masih terpatri di kamus kesadaran saya guys, filmnya orang Amerika namanya Robert J Flaherty berjudul “Nanook of The North”. Itu kan film yang dibikin tahun 1920 an sekian ya, saya nonton tahun 1998. Mbayangin kameranya segede apa, trus gimana menyesuaikan dengan cuaca dan iklim di kutub utara sana, trus berapa rombongan sirkus yang terlibat di film itu. Berapa biayanya, coba dihitung. Bah! Ribet banget guys…! Lalu kenapa masih mau bikin film dokumenter ya? Itulah guys, namanya juga cinta! Kalok dah cinta, taik kucingpun dimakan rasa cokelat bukan? Xixixixixi…

Guys, para kritikus bilang film kayak “Nanook of the North” atau “Three Rooms of Melancholia” itu masuk dalam golongan film dokumenter observatory. Nggak tahu deh kok sampe dimasukin ke golongan begituan. Mungkin karena dibikinnya tuh pake sabar kalik ya? Sebab film kayak begituan hanya bisa dikerjakan jika si filmmaker nongkrongin tuh si subyek atau karakter yang ada di film itu. Observasi guys! 

Anyway… balik ke pertanyaan dokumenter apa fiksi? Nah guys akhirnya nih saya jadi berkelana deh nyari jawabannya. Akhirnya guys, menurut pengalaman pencarian itu, saya bisa menarik kesimpulan begini. Fiksi dan dokumenter hanya dibedakan dalam dua prinsip dasar. Fiksi berangkat dari imajinasi, sementara dokumenter berangkat dari realitas, fakta dan data. Filmmaker dengan pendekatan fiksi mewujudkan imajinasinya menjadi realitas sinematik, sedangkan filmmaker dengan pendekatan dokumenter menjemput realitas menjadi realitas sinematik…. halaaah sok mendalam ya saya guys? 

Courtesy: google.com


Wuidiiiiihhh… gitu ya? Ho oh… menurut saya begitu. Nah observasional menurut pandangan saya itu adalah metodelogi dalam pembuatan sebuah dokumenter. Jean Rouch mengatakan cinema verite guys, apalagi nih? Iya artinya sinema yang jujur, terinspirasi sama Dziga Vertov orang Rusia dan Robert J Flaherty.
Sinema jujur, sinema kebenaran. Tokohnya banyak dicatat lengkap di wikipedia guys, males saya nulisnya di sini. Kalian cek aja sendiri guys di google yak… Yang penting dari pembahasan sinema jujur ini adalah data yang mengungkapkan kenyataan walaupun kenyataan itu sulit disampaikan secara visual karena berbagai hal terkait dengan subyeknya. Tuh kan, akhirnya kita bisa memilah bagaimana film dokumenter berangkat dari fakta, dari kenyataan. 
Dari teori itu, guys saya kemudian mencoba membuat eksperimen-eksperimen kecil dalam pembuatan film dokumenter. (Kecil karena tergantung budgetnya ada apa ngak… hahaha). Di dalam eksperimen itu guys, ada pengalaman menarik yang bisa saya bagi dalam catatan ini.

Ini contoh ya guys, semisal begini;

Cerita tentang Suku Wana yang mendiami wilayah adat Hutan Morowali Sulawesi Tengah. Waktu itu ada kerjaan dari Tifa Foundation dan Interseksi Foundation tahun 2008. Mau bikin film dokumenter tentang hak minoritas Suku Wana sebagai bagian dari Indonesia. Selama satu bulan guys, saya berada di hutan rimba belantara jauh dari es cendol, nggak ada internet, ngecharge batere kamera harus menggotong generator ke mana mana. Maklum guys, suku Wana itu nomaden, peladang berpindah. Metode observasi berlaku selama satu bulan itu. Akhirnya saya jadi filmmaker dokumenter nomaden juga deh… asem..

Bersama; Erwan Efendi, Ari Rusyadi, dan Ali Morowali


Ternyata guys, mau bikin film yang gak ada wawancaranya susah banget! Butuh pendekatan yang gak cukup satu bulan! Udah gitu medan yang dilalui nggak gampang guys, hutan rimba belantara!

Saya menggunakan wawancara untuk merajut cerita-cerita dari orang-orang di Kajupoli dan Marisa ( frontier ekonomi mereka yang berbatasan langsung dengan wilayah kabupaten, port Kolonedale). Saya juga menggunakan perekaman mengikuti setiap kegiatan mereka. Kesulitannya nih di lapangan, mereka sering pakai bahasa Wana, guys kalau pas saya rekam. Sementara budget ga ada buat bawa mereka ke Jakarta buat terjemahin. Nah, dari wawancara itu akhirnya saya mendapatkan data bagaimana mereka memasuki kehidupan modern namun masih memiliki semangat untuk mempertahankan adat istiadat sebagai kesatuan adat dan wilayah orang Wana. 

Guys, kalau kalian jadi orang Wana, bisa bayangin guys bagaimana menyesuaikan diri menjadi Indonesia? Bagaimana mereka memutuskan memilih agama, memilih wilayah tempat tinggal karena wilayah mereka terpatok kebijakan Taman Nasional misalnya? Memilih cultural heritage atau hidup bebas menyesuaikan diri dengan perubahan? 

Kemudian bagaimana mereka menyamakan nilai kebutuhan ekonomi dari barter ( tukar menukar ) menjadi jual beli dengan uang? Lalu bagaimana mereka harus mengikuti sistem demokrasi melalui pemilihan umum, siapa yang mereka pilih? Apakah mereka terwakili hak politiknya sebagai minoritas? Hmmmm… gak gampang banget nyatanya.

Gaya observatory hehehe


Dari cerita di lapangan, guys… ada beberapa rekaman yang saya sebut “meminjam relitas”. Begini, waktu saya tiba di sana banyak yang sudah berubah, mereka pakai baju seperti halnya kita di masa modern, mereka sudah sedikit yang menggunakan “Kimbi-kimbi” cawat dari kulit kayu. Untuk penerangan sudah menggunakan solar cell barang warisan peneliti dari Prancis yang ngendon di Wana bertahun-tahun. 

Saya meminjam realitas mereka dengan rekonstruksi. Dengan demikian batasannya adalah tidak melebihi dari fakta yang ada. Semisal rekonstruksi upacara Mamago, upacara yang dilakukan untuk berkomunikasi dengan roh-roh leluhur. Salah satunya menggunakan sarana air Pongase (minuman beralkohol asli Wana). 

Dari rekonstruksi itu kita mendapatkan data audio visual yang mendekati realitasnya. Mendekati ya guys, karena kalau tidak direkonstruksi maka filmmaker harus menunggu bisa berbulan-bulan sampai mereka melaksanakan upacara adat itu sesuai almanak atau kalender adat mereka.

Apakah kemudian itu disebut fiksi? Karena menempatkan kamera, angle dan komposisi berdasarkan kemauan si filmmaker? 

Apakah itu disebut dokumenter karena menggunakan fakta yang ada di lapangan dan hanya meminjam realitas dari fakta yang ada? 
Guys, kita bisa menuntaskan catatan-catatan yang tertinggal dari pembuatan film dokumenter ini dengan jalan diskusi. Silahkan guys kalau mau bertanya di sini. Tentunya lihat dulu guys filmnya, ada kok di youtube… mau saya bagi linknya? Nihhh guys cekidot!

Ada empat bagian ya guys… silahkan dilihat, kalau suka ya tolong dilike, jangan lupa guys klik juga subscribe nya yaaa maklum guys, saya masih fakir subscribe hehehe…

Observasi perdagangan damar di Wana


Ada catatan lama yang bisa dibaca juga nih guys; http://membacaindonesia.blogspot.co.id/2011/06/morowali-journey2007.html?m=1

Thanks ya guys udah meluangkan waktu baca curcolku perihal film dokumenter… ditunggu yaaaa responnya… kritik? Boleh guys kritik aja, yang pedes sekalian! Hahaha… semoga berguna, salam! 

Catatan Catatan Yang Tertinggal Dari Film Dokumenter (1)

Uncategorized

 (Prolog gaya Gen Milenia)

American Film Showcase

2016

Menggeluti film dokumenter adalah pilihan. Akan tetapi menguliti film dokumenter selama hampir 19 tahun sejak pertama masuk kuliah film di Fakultas Film dan Televisi (FFTV IKJ) Institut Kesenian Jakarta (IKJ) bisa jadi bukan lagi pilihan akan tetapi merupakan suatu ketidakwarasan. Ya tidak waras karena cinta yang terlalu mendalam… eaaaaaaaaaaaaa 😀

Saat senggang merayakan snack


Ada banyak pengalaman yang didapatkan dari proses menggeluti dan menguliti film dokumenter. Mau tahu, guys? Anggap saja jalan-jalan gratis ke banyak wilayah yang sebelumnya hanya jadi angan-angan dapat terwujud karena film dokumenter. Coba bayangin guys, berkunjung selama minimal 1 minggu di berbagai wilayah di seluruh Indonesia, naik pesawat, kapal laut, becak, ojek motor sampai perahu. Membawa perbekalan dan pulang membawa cerita dalam bentuk audio visual, kalau ditotal duitnya berapa coba? Belum tentu filmmaker yang bukan dokumenter mengalami itu. 

Manfaat yang lain masih banyak lagi, misalkan catatan nomer telepon kenalan bertambah, pengenalan adat istiadat dan kebiasaan orang lain bertambah, catatan harian berjibun, kemampuan teknis semakin tajam, skill semakin matang, apa lagi? Tentu banyak. Yang tidak bertambah barangkali adalah penghasilan, guys! Hahahahaa ini penyataan jujur sihh guys. 

Merasakan Selfi di Pendjara Tanah Merah


Di Indonesia sudah jadi rahasia umum bahwasanya film dokumenter dianggap sebagai film dengan biaya produksi murah. Murahnya seberapa? Nah itu guys, variatif sih… gak perlu dijelaskan guys, tapi dijalanin aja dengan sukacita sebagai berkat karunia Tuhan Yang Maha Esa… amin..

Tapi tenang yaaaa guys, pagu produksi film dokumenter yang murah itu sudah gugur di tahun 2017 dengan lahirnya film Banda, The Dark Forgotten Trail yang disutradarai seniman ternama dari Indonesia, mas Jay Subiyakto dan dikawal oleh punggawa produser mas Abduh Azis dan mbak Lala Timothi. Para pegiat film dokumenter Indonesia layak bergembira, dan semoga semakin giat berdoa yaaaa… agar pagu itu tetap stabil, bisa makin naik tapi jangan turun. Hahaha… guys, kalok setiap film dokumenter diproduksi dengan budget milyaran, aku kok yakin ya filmmaker dokumenter bakalan sejahtera. Tentunya harus ada industrinya, guys, di dalamnya ada sistem yang mengatur penyehatan dana film, distribusi dan eksibisinya…. ho oh… bener kalok kata mbak Kim Hyonf Suk direktur Asian Documentary Network yang tiap tahun nongkrong di Festival film Busan Korea Selatan. Hihihi…

Papua, Boven Digoel, EAGLE AWARD 2017

Bandara Boven Digoel


Apa sih menariknya film dokumenter? Pertanyaan itu seringkali terlontar dari penonton film, guys. Ampe kadang sampai bosen njelasinnya. Tentu pertanyaan itu adalah pertanyaan yang jujur dari para kepois-kepois film dokumenter. Sebab, di Indonesia yang belum punya industri film dokumenter saat ini pada kenyataannya film dokumenter sering menjadi tontonan yang dikesankan tidak menarik oleh sebab stigma bahwa film dokumenter selalu pakai wawancara, monoton, tidak naratif dan banyak hal lagi yang bikin gagal paham sama barang bagus bermama film dokumenter ini, guys! Pemahaman seperti itu wajar-wajar saja dan masuk akal. Ngga usah ngamuk, guys. Karena filmmaker dokumenter bukan ormas politik yang mudah tersulut api dendam di bukit Menoreh. Xoxoxoxoxo…

Bersama peserta Eagle Award 2017


Sebagai mantan mahasiswa film (cieeee, guys gini-gini pernah mahasiswa lho!) saya merasakan perkembangan teknologi audio visual berpengaruh pada bentuk dan gaya bertutur dalam film dokumenter. Saya lahir di era analog guys, masih pakai seluloid, lalu ada kaset video dari mulai betamax, vhs, h8, d8, betacam, mini DV, DV Cam sampai sekarang hijrah ke media digital pakai kotak kecil tipis sak uprit bermama memory card, guys. Itu tuhhh medianya generasi milenia.

Nahhh guys, dari situ tuhhh saya merasakan perkembangan teknologi digital berandil besar dalam mengembangkan cara bertutur di dalam tradisi pembuatan film dokumenter. Jika dulu dengan media pita seluloid dan pita suara seorang filmmaker dokumenter hanya bisa merekam dalam durasi pendek, lantas harus mengikuti proses laboratorium yang penuh prosedur, maka film tidak bisa dibilang murah hingga rilis sebagai media pandang dengar.
Kayak dukun harus topo broto belasan tahun menahan haus lapar untuk mendapatkan kesaktian mandraguna, otot kawat tulang besi, seorang filmmaker harus membekali ilmu film dari sekolah film selama bertahun-tahun, guys! Sampai lumutan…hahaha

Saya, dan guru saya; mas Garin dan Philip


Teknologi digital telah merubah banyak hal, guys. Semua yang rumit jadi sederhana, simpel dan asyik. Dulu dengan seluloid filmmaker dokumenter mengumpulkan footage-footage pendek yang kemudian diedit di meja editing dengan proses yang sama njlimetnya dengan proses laboratorium film, kini dengan teknologi digital seorang filmmaker dokumenter bahkan dapat merekam realitas 24 jam nonstop. Mengedit dengan handphone san tayang di sosial media digital, guys! Bukan kentongan analog yaaaak… xoxoxoxoxo

Eagle Award 2016, Mama Amamapare

Mama Amamapare


Tentu ini berpengaruh pada bentuk audio visualnya dan cara bertutur melalui media audio visualnya itu sendiri. Di era analog, para peneliti memiliki ruang dan waktu meneliti genre dan memisahkannya ke dalam teori-teori, namun dengan adanya perkembangan teknologi digital yang pesat, audio visual digital saat ini (Kamera video, alat editing, sound recorder, sosial media) menjadi lebih ringkas namun belum tentu kita sempat meneliti, mencatatkan, dan atau merumuskan teorinya, bisa ketinggalan berita, guys. Nahhh sayangnya hampir bisa dikatakan, negara seperti Indonesia yang berjumlah 250 juta ini belum ada banyak peneliti serupa profesor doktor yang khusus meneliti dan melahirkan teori film. Belum ada satupun yang melahirkan teori seputar seluk beluk film dokumenter. Baru bisa bikin mobil SMK kelessss…:D
Udah ah guys, daripada nguyoworo (berselancar) ke mana-mana ngga jelas juntrungannya, lebih baik fokus nulis ah…
Dengan catatan-catatan yang akan saya update berikutnya, saya ingin menulis berbagai temuan dari pengalaman membuat film dokumenter yang telah saya geliti dan kuliti selama hampir 19 tahun terakhir. Saya berharap catatan-catatan yang tertinggal dari lapangan kekaryaan film dokumenter ini dapat menjadi inspirasi bagi saudara-saudara pemerhati, penikmat, masyarakat biasa yang mulai kepoin apa sih menariknya film dokumenter itu?

IDFA 2015 Amsterdam

Sukarelawan di Minikino, Bali

Film dan masyarakat


Guys, film dokumenter mengajarkan banyak hal kepada saya. Dengan film dokumenter saya mendapatkan kesempatan untuk diperkenalkan dengan masyarakat dan tanah air saya, Indonesia. Dengan film dokumenter saya mendapatkan kesempatan berhijrah ke negeri-negeri yang jauh untuk mengasup banyak pelajaran kehidupan.

Kalau sukak sama tulisan-tulisan saya ojo lali yooo, Jangan lupa share, like, atau tanggapin yaaaa…
Semoga catatan ini menarik buatmu para pembaca semuanya, Guys. 

Terimakasih… Tabik!

Salam hangat
Daniel Rudi Haryanto

– Alumni FFTV IKJ 2005

– Peraih anugrah Director Guild of Japan Award, Yamagata Int’l Documentary Film Festival 2011

– Peraih Special Jury Mention dari Cinemasia Amsterdam 2014,

– Alumni Dare to Dream Asia 2015

– Alumni American Film Showcase 2016, Southern California University ( Amerika Serikat )

– Supervisor di Eagle Award Documentary Competition 2015,2016,2017

– Pendiri Cinema Society, Indonesian Gilm Watch, Sukarelawan di Minikino, Bali.

– Pendiri Studio dan Laboratorium Visual Sarang Berangberang, Indonesian Documentary Engine.